Reuni F*Forever Jakarta, Penawar Rindu yang Belum Sempurna

Jakarta, GOCifstats Indonesia

Kerinduan mendalam yang mengendap dua dekade akhirnya terbayar tuntas lewat rangkaian

konser

F*FOREVER

yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, pada 28 hingga 30 Mei 2026.

Panggung penebusan rindu ini menjadi momentum langka yang membuktikan bahwa daya pikat pop kultur awal era 2000-an belum sepenuhnya pudar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apresiasi tinggi patut diberikan kepada B’in Music, seluruh tim FForever, dan secara khusus Ashin Mayday, yang berhasil merealisasikan proyek reuni masif bersama tiga member F4: Jerry Yan, Van Ness Wu, dan Vic Chou.

Sebagai penonton yang hadir pada hari ketiga, saya datang dengan ekspektasi yang sudah disesuaikan setelah memantau dinamika serta catatan teknis yang terjadi pada dua hari pertama.

Manajemen teknis penyelenggaraan pada hari terakhir ini ternyata berjalan baik, adaptif, dan tetap menyajikan atmosfer yang menyenangkan tanpa kehilangan keintiman pertunjukan.

Dari paruh awal hingga akhir, aspek produksi visual menjadi salah satu kekuatan utama yang benar-benar memanjakan mata dan membuat penonton amazed.

Panggung megah, tata lampu presisi, serta arahan sinematografi yang apik sukses memperkuat karisma luar biasa para personel di atas panggung.

Begitu pula dengan keberadaan LED raksasa yang menampilkan visual-visual terkurasi, disesuaikan secara jeli dengan tema tiap lagu untuk menyisakan ruang bagi momen yang emosional, baik penampilan personal, maupun saat penampilan bersama.

Kehadiran live band juga patut diapresiasi karena memberikan kontribusi besar dalam menjaga transisi antarlagu tetap mulus tanpa jeda yang canggung.

Hal ini terasa krusial di bagian akhir, ketika para artis tak ingin segera berpisah dan lebih ingin mendengar penonton bernyanyi sehingga aransemen mengalir selaras bersama instrumen langsung.

Dinamika panggung pun semakin hidup berkat pergerakan koreografi para penari latar yang solid.

[Gambas:Video GOCifstats]

Pihak penyelenggara juga jeli membaca kebutuhan audiens lewat detail-detail kecil yang berdampak besar pada psikologi massa.

Membagikan

lightstick

gratis kepada seluruh penonton menjadi langkah taktis yang mungkin terlihat sederhana, namun sulit rasanya ditemukan di konser promotor lain belakangan ini.

Selain itu, penyediaan teks lirik di sepanjang konser merupakan langkah tepat untuk memfasilitasi karakter unik pencinta konser di Indonesia yang dikenal sebagai paduan suara atau

backsinger

terbaik di dunia.

Alhasil, sesi bernostalgia lewat deretan lagu hit yang familier terdengar bergemuruh, memenuhi seluruh sudut arena dengan getaran emosi yang pekat.

Ada kepuasan tersendiri menyaksikan pemandangan di dalam hall malam itu. Suasana terasa sangat hidup dan menyenangkan karena tribun hingga festival benar-benar dipenuhi oleh lintas generasi.

Terlihat riuh penonton datang dari generasi X yang ingin mengenang masa muda mereka atau ikut bersama anak-anak mereka, gelombang besar generasi milenial yang mendominasi area, hingga generasi Z yang rupanya akrab dengan warisan melodi ini.

Semua melebur tanpa sekat, menyanyikan bait demi bait lirik yang sama.

Konser reuni tersebut dibagi menjadi tiga babak utama, yakni Future, Friendship, dan Forever. Kebersamaan antara Jerry Yan, Van Ness Wu, Vic Chou, dan Ashin Mayday langsung terasa solid sejak menit pertama saat mereka membuka repertoar lewat lagu kolaborasi teranyar bertajuk Always be My Bro.

Alih-alih terjebak dalam nostalgia instan yang klise, aransemen pembuka ini memberikan penyegaran kontemporer yang efektif sebelum mulai memainkan emosional penonton melalui rangkaian tembang klasik F4, seperti Waiting for You, Ask for More, hingga First Time.

Bobot pertunjukan malam itu kian bertumpu pada bagaimana tiap personel mengeksplorasi panggung solo mereka tanpa kehilangan benang merah produksi utama.

Van Ness Wu mendominasi paruh awal lewat ketukan dinamis dan koreografi bertenaga dalam lantunan karya-karya solonya, termasuk Dance Until We Die hingga Pray.

Sementara itu, Vic Chou membawa pusaran melankolis penonton melalui medley ikonis Make a Wish. Berbeda dengan citra melankolisnya di masa lalu, malam itu Vic Chou justru tampil begitu berenergi dan memancarkan aura positif yang dengan mudah menularkan kebahagiaan ke seluruh penjuru tribune.

Kehadiran Ashin Mayday lewat salah satu lagu legendarisnya, Suddenly Missing You So Bad, hingga Willful yang merupakan salah satu lagu terbarunya dan begitu populer sebagai soundtrack The First Frost, memberikan dimensi musik yang lebih kaya.

Kemudian Indonesia Arena yang jelas langsung geger ketika Jerry Yan muncul di panggung dengan kemeja putih dan kacamata frame hitamnya untuk menyanyikan Luxury hingga tembang legendarisnya, Wo Shi Zhen De Zhen De Hen Ai Ni.

Jerry Yan juga di babak akhir muncul mengenakan beanie dengan bandana merah yang tergantung di celananya direspons luar biasa oleh penonton karena seperti menghadirkan kembali Dao Mingsi secara langsung di Jakarta.

Dalam penampilannya, ia juga membuat para penggemar terharu dengan memegang kalung meteor ikonis dari Meteor Garden. Ia menggantungkannya di teleskop di atas panggung bak penghormatan menyentuh hati kepada mendiang lawan mainnya, Barbie Hsu, yang memerankan Shan Cai.

Di sela-sela penampilan, panggung berulang kali dihujani momen

bromance

antara Jerry Yan dan Vic Chou. Kehadiran Van Ness Wu di sisi mereka seolah membangkitkan ingatan kolektif penonton ke era kejayaan Dao Mingsi, Hua Zhelei, dan Mei Zuo Meteor Garden.

Momentum pertunjukan mencapai puncaknya berkat eksekusi teknis panggung hidrolik

thrust stage

.

Fasilitas itu membawa para personel merangsek maju mendekati tribun penonton saat Can’t Lose You dan Season of Fireworks dikumandangkan, sebelum akhirnya ditutup secara masif lewat versi penuh Meteor Rain di sesi encore.

Jelang akhir, atmosfer haru sempat merayap ketika para personel tampak berkaca-kaca menahan tangis di atas panggung sembari mendengar penonton bernyanyi Meteor Rai.

Namun, suasana emosional itu langsung mencair berkat aksi jenaka Jerry Yan, Van Ness Wu, dan Ashin yang kompak menggoda Vic Chou.

Mereka berulang kali menyanyikan lagu Happy Birthday untuk sang member termuda yang akan berulang tahun pada 9 Juni mendatang-sebuah trik hangat yang sukses mengalihkan air mata menjadi tawa bersama.

Lanjut ke sebelah…

Meski sukses besar membawa penggemar bernostalgia, bukan berarti konser ini lepas dari catatan kritis.

Beberapa hal sesungguhnya sudah layak disoroti sedari awal, seperti kebijakan batas maksimal pembelian di angka 10 tiket yang dua kali lipat lebih banyak daripada aturan konser pada umumnya.

Situasi longgar tersebut secara otomatis membuat ruang gerak calo dan bot menjadi lebih besar serta luas, mengorbankan para fan yang benar-benar berjuang sendiri dengan tangan mereka untuk mendapatkan tiket resmi.

Kemudian, pilihan tata letak panggung 360 derajat yang diusung kemarin malam nyatanya tidak benar-benar diletakkan di tengah hall. Ketidaksesuaian ekspektasi ini berbeda dengan bayangan banyak penonton yang suara kekecewaannya jelas terdengar sejak hari pertama.

Begitu pula dengan beberapa kelas tertinggi yang sepertinya lebih kesulitan menikmati jalannya konser karena posisi duduk yang tertutup tiang struktur atau gangguan pandangan lainnya, atau penonton tribune yang agak terhalang dengan pagar tribune.

Hal itu pula yang memicu efek domino di lapangan; beberapa penonton nekat berdiri hingga mengganggu kenyamanan penonton di belakangnya.

Konsentrasi massa langsung pecah saat para member berjalan di area extended stage, membuat penonton terpaksa berdiri demi berebut ruang pandang yang semakin menyempit.

Bagi seorang penikmat konser yang lebih menyukai format konvensional satu arah demi kepastian visual, catatan-catatan operasional ini menjadi evaluasi penting agar ambisi visual yang megah di masa mendatang tidak mengorbankan hak-hak fisik mendasar penonton.

[Gambas:Video GOCifstats]

Catatan minor lain yang cukup mengganggu datang dari sektor penerjemah.

Di paruh awal konser, suara interpreter terdengar kaku, tanpa penjiwaan, bahkan keteteran hingga banyak bagian dialog yang seolah terlewat tanpa diterjemahkan.

Untungnya, menjelang akhir acara, performanya mulai lebih hidup dan mampu mengimbangi interaksi para artis di panggung.

Dari berbagai catatan kekurangan yang ada, hal itu sama sekali tidak menampik bahwa konser ini merupakan jawaban sekaligus momen manis bagi para penggemar yang menantikan mereka sekitar dua dekade.

Pertunjukan ini menjadi penawar rindu yang sangat berharga, terutama bagi mereka yang belum sempat atau terlewatkan menyaksikan langsung penampilan legendaris F4 pada tahun 2003 silam di Jakarta.

Jika ada kesempatan lainnya di masa mendatang, mungkin dalam bentuk konser encore, muncul harapan besar agar tata kelola ruang, manajemen ticketing, dan teknis lapangan dapat dipersiapkan dengan jauh lebih baik, rapi, dan matang.

Add

as a preferred

source on Google

Review Konser: F-FOREVER City of Stars in Jakarta 2026

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Wanita Kena Kanker Kulit Usai Rutin Pakai Cat Kuku, Gegara Lampu UV?

Baca lagi: Jet Militer Taiwan Jatuh saat Simulasi Gagal Mesin, 2 Pilot Tewas

Baca lagi: Penampakan Puing Kebakaran Permukiman Padat di Kemayoran

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: